

Survei dapat mencatat apa pilihan konsumen. Namun, angka sering berhenti sebelum menjelaskan alasan di balik pilihan tersebut. Dua orang bisa memberi jawaban serupa, padahal pengalaman, keraguan, dan pertimbangannya bertolak belakang.
Jarak antara jawaban dan alasan itulah wilayah kerja wawancara mendalam atau in-depth interview (IDI). Metode ini bukan percakapan santai, juga bukan kuesioner lisan. IDI merupakan percakapan terarah untuk memahami cara seseorang menafsirkan pengalaman dan mengambil keputusan.
Percakapan dengan Arah
Eleanor Knott dan koleganya menyebut wawancara mendalam sebagai metode kualitatif serbaguna. Partisipan dapat menerangkan dunia dengan kata-katanya sendiri, tetapi peneliti tetap mengarahkan percakapan demi tujuan tertentu. Sifat ganda ini membuat IDI tampak akrab sekaligus menuntut disiplin metodologis.
Dalam praktiknya, IDI umumnya mempertemukan seorang pewawancara dengan seorang partisipan. Format semi-terstruktur paling sering dipakai. Peneliti membawa panduan topik, lalu menyesuaikan urutan dan pertanyaan lanjutan dengan jawaban partisipan.
DeJonckheere dan Vaughn menggambarkan wawancara semi-terstruktur sebagai keseimbangan antara relasi dan ketelitian. Panduan menjaga percakapan tetap fokus. Keluwesan memberi ruang bagi pengalaman tak terduga untuk muncul.
Karena itu, pertanyaan “Apakah proses pengajuan kredit mudah?” jarang menghasilkan jawaban memuaskan. Pewawancara perlu mengejar peristiwa konkret. Kapan kendala terjadi? Bagian mana terasa membingungkan? Apa tindakan partisipan setelahnya? Mengapa langkah tersebut dipilih? Pertanyaan lanjutan semacam ini disebut probing.
Kapan IDI Lebih Berguna?
Bayangkan sebuah bank ingin memahami alasan nasabah prioritas jarang memakai fitur investasi di aplikasi. Survei dapat menunjukkan tingkat penggunaan atau penilaian terhadap fitur. Namun, label “kurang relevan” belum menerangkan sumber masalah.
IDI dapat mengurai beberapa kemungkinan. Pilihan produknya mungkin dianggap sempit. Bahasa investasi bisa terasa rumit. Rekomendasi digital barangkali belum dipercaya. Nasabah juga mungkin lebih nyaman berbicara dengan relationship manager.
Metode ini cocok saat penelitian membutuhkan riwayat individual, keputusan kompleks, atau cerita sensitif. IDI juga membantu ketika pendapat peserta berisiko tertahan oleh tekanan kelompok.
Focus Group Discussion (FGD) bekerja dengan logika berbeda. FGD memanfaatkan interaksi antarpeserta untuk melihat persetujuan, perdebatan, dan norma sosial. IDI memusatkan perhatian pada pengalaman seorang partisipan. Pilihan metode seharusnya mengikuti pertanyaan riset, bukan sekadar kebiasaan tim.
Pewawancara Ikut Membentuk Data
Kekuatan IDI sekaligus menjadi titik rawannya. Pewawancara bukan alat perekam netral. Cara bertanya, intonasi, ekspresi, dan keputusan mengejar satu cerita dapat memengaruhi jawaban.
Keterampilan utama bukan berbicara sebanyak mungkin, melainkan mendengarkan secara aktif. Pewawancara perlu mengenali jawaban kabur, meminta contoh, dan menguji konsistensi tanpa menghakimi. Pertanyaan menggiring harus dihindari agar partisipan tidak sekadar menebak jawaban paling disukai peneliti.
Etika pun tidak berhenti pada formulir persetujuan. Partisipan perlu memahami tujuan, penggunaan rekaman, hak untuk menolak pertanyaan, serta cara identitasnya dilindungi. Topik sensitif menuntut suasana aman dan batas percakapan yang jelas.
Berapa Wawancara Sudah Cukup?
Riset kualitatif tidak memiliki angka sampel tunggal untuk semua proyek. Kirsti Malterud dan koleganya menawarkan konsep information power. Sampel dapat lebih kecil apabila partisipannya sangat relevan, tujuan risetnya sempit, dialognya kaya, dan strategi analisisnya terarah.
Kecukupan juga bergantung pada jenis pemahaman. Dalam studi terhadap 25 IDI, Hennink dan koleganya menemukan kejenuhan kode pada wawancara kesembilan. Tema utama saat itu sudah terpetakan. Pemahaman makna secara kaya baru tercapai pada kisaran 16 sampai 24 wawancara.
Temuan tersebut bukan rumus universal. Pelajarannya justru terletak pada perbedaan antara sudah mendengar semua tema (menjawab tujuan riset yang dicari) dan sudah memahami maknanya. Menambah partisipan tidak otomatis memperbaiki riset jika pertanyaan, pemilihan sampel, atau analisisnya lemah.
Wawancara mendalam berguna bukan karena menghasilkan banyak kutipan. Nilainya muncul ketika percakapan dirancang secara sistematis, dijalankan dengan peka, lalu dianalisis secara disiplin. IDI membantu peneliti bergerak dari jawaban menuju alasan, konteks, dan mekanisme keputusan.
Referensi
Knott dkk., Interviews in the social sciences DeJonckheere dan Vaughn, Semistructured interviewing in primary care research Malterud dkk., Sample size in qualitative interview studies Hennink dkk., Code saturation versus meaning saturation